Minggu, 23 Maret 2014

Problematika Pembelajaran Sains di Sekolah




MAKALAH PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN SAINS
PEMBELAJARAN SAINS DI SEKOLAH







Disusun Oleh:
Erny Rohmatus Sa’adah                (S831402029)


PRODI PENDIDIKAN SAINS/KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Era globalisasi yang terjadi sekarang ini telah mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan. Kehidupan masyarakat saat ini sangat bergantung dan dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi. Akibat perkembangan itu, manusia dituntut untuk selalu mengikuti semua perkembangan tersebut dengan berbagai macam perubahannya. Seiring perkembangan jaman, persaingan antar individu juga semakin berkembang. Persaingan dalam hal pendidikan, kerja, dan berkarya menjadi hal yang sangat penting dan harus dipersiapkan dengan maksimal bagi masing-masing individu. Mempersiapkan individu yang siap berkompetisi di dunia global dengan segala tantangan yang ada dapat dibentuk dan dipersiapkan oleh dunia pendidikan.
Untuk mempersiapkan hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan selalu berupaya untuk menjawab tantangan dari era globalisasi yang sedang berkembang pesat dari waktu ke waktu. Pemerintah beberapa kali telah melakukan perubahan kurikulum pendidikan demi menjawab tuntutan tersebut. Mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, lalu diganti dan diperbaharui dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, dan yang masih hangat dan menjadi pro kontra di kalangan akademisi pendidikan adalah Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 pemerintah memberikan perhatian yang khusus pada pembelajaran sains di seluruh tingkat satuan pendidikan mulai SD, SMP, dan SMA. Menurut dokumen kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan, hasil studi PISA (Program for International Student Assessment) menyebutkan bahwa negara Indonesia menduduki peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara dalam melek sains (Science literacy). Bukan hanya itu, hasil studi dari TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menempatkan Indonesia pada rangking yang amat rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang kompleks, (2) teori, analisis, dan pemecahan masalah, (3) penggunaan alat, prosedur dan pemecahan masalah, (4) melakukan investigasi.
Pembelajaran sains yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah hanya menekankan pada pemberian konten materi (produk) dari sains itu sendiri, sehingga kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik hanya sebatas pada aspek kogitifnya saja. Secara hakikat, sains itu meliputi produk (kognitif), proses (psikomotor), dan pembentukan sikap ilmiah (afektif). Dalam pembelajaran sains, ketiga aspek tersebut harus terpenuhi agar peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan secara menyeluruh dan melek sains.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa itu pembelajaran sains?
2.      Apa tujuan dari pembelajaran sains?
3.      Apa konten/materi ajar dalam pembelajaran sains?
4.      Bagaimana model pembelajaran dalam pembelajaran sains?
5.      Bagaimana instrumen evaluasi dalam pembelajaran sains?







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tujuan Pembelajaran Sains
Sains merupakan salah satu bagian dari kehidupan manusia, sedangkan kehidupan manusia itu bagian dari pembelajaran sains. Sains dan kehidupan manusia sangat berkaitan erat dan hampir tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Sains dikembangkan untuk memahami gejala alam, baik berupa fakta-fakta atau kejadian-kejadian dan hubungan sebab-akibatnya secara sistematis sehingga dalam proses menemukan jawaban atas keingintahuan tersebut perlu dilakukan suatu proses ilmiah.
Menurut Piaget dalam buku Teori-teori Belajar & Pembelajaran (Dahar, 2011) belajar sains merupakan suatu proses membangun pengetahuan dengan partisipasi aktif dari siswa. Piaget juga berpendapat dalam teori belajar konstruktivis bahwa individu dapat membangun sendiri pengetahuannya sejak kecil dari hasil pengalamannya sendiri dengan lingkungan (Suyanti, 2010). Konstruktivisme didasari oleh teori belajar kognitif (Sanjaya, 2010) yang beranggapan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema (struktur kognitif yang terbentuk dari proses pengalaman) yang sudah ada. Sedangkan asimilasi adalah proses penyempurnaan skema yang sudah  terbentuk, akomodasi adalah proses perubahan skema tersebut.
Selama ini di beberapa sekolah masih banyak yang menerapkan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered), sehingga partisipasi aktif dari siswa untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri masih kurang terlebih untuk pengetahuan sains. Dalam buku karangan Retno Dwi Suyanti (2010) Edgar Dale menggambarkan dalam kerucut pengalaman (cone of experience) bahwa semakin konkret siswa mempelajari konten materi ajar, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh siswa dan akan semakin kuat ingatan tentang materi yang dipelajari. Hakikat sains meliputi produk, proses, dan sikap ilmiah, maka dalam proses pembelajaran sains di sekolah siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator, mediator, pengelola, demonstrator, pembimbing, evaluator, dan sumber belajar (Sanjaya, 2010). Untuk mendukung keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan melakukan perubahan kurikulum dari KTSP menjadi Kurikulum 2013 yang memberikan perhatian khusus pada ilmu sains. Pemerintah berharap dengan perubahan kurikulum 2013 ini, siswa dapat lebih melek sains bukan hanya terbatas pada konten atau produk hasil sains sehingga hanya pengetahuan yang bersifat kognitif yang dikuasai dan dipahami, tetapi lebih pada proses sains atau keterampilan proses untuk mendapatkan dan mengembangkan sains lebih lanjut (psikomotor) serta sikap ilmiah atau mental ilmiah ketika terjun dan berkecimpung dalam dunia sains (afektif). Menurut Rustaman (2005) tujuan jangka panjang dari pendidikan sains adalah siswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, kreatif, tekun, disiplin, mengikuti aturan, dapat bekerja sama, bersikap terbuka, percaya diri, memiliki keterampilan kerja, keterampilan komunikasi dan keterampilan sosial lainnya untuk membekali siswa dalam menghadapi tantangan dalam masyarakat yang semakin kompetitif antara satu dengan yang lain di segala bidang.
Menurut UNESCO ada empat pilar pendidikan dalam pembelajaran sains di sekolah yaitu learning how to know, learning how to do, learning to be, dan learning to live together. Dalam kurikulum 2013 ini, konsep empat pilar dari UNESCO diaplikasikan oleh pemerintah dengan memberikan beberapa model pembelajarn yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran sains seperti PBL (Project Based Learning), Inquiry, Discovery dan SETS (Science, Environment, Technology dan Society). Tujuannya agar siswa tidak hanya mengerti dan paham tentang konten materi dari sains tetapi lebih pada keterampilan proses sains menggunakan metode ilmiah (scientific methode), kemampuan berpikir, dan keterampilan memecahkan masalah secara efektif serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan selanjutnya di masyarakat.
B.     Konten/ Materi Ajar
Sains atau IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) mempelajari segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita (lingkungan) berupa fakta-fakta atau kejadian-kejadian dan hubungan sebab-akibatnya secara sistematis serta proses penemuan. Anggota rumpun sains atau IPA di antaranya adalah fisika, kimia, biologi, dan astronomi/astrofisika. Konten materi ajar sains meliputi produk-produk sains berupa fakta-fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum yang sudah diterima keberadaannya (Diknas, 2008). Pada ilmu kimia mempelajari gejala khusus yang terjadi pada suatu zat dan segala yang berhubungan dengan zat seperti komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika, dan energetika zat.


C.    Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran mencangkup pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Dalam proses pembelajaran sains di sekolah, pemilihan pendekatan, strategi, metode, teknik, serta model pembelajaran sangat penting. Hal ini dikarenakan tidak semua jenis komponen tersebut sesuai jika diterapkan pada pembelajaran sains. Dengan pemilihan pendekatan, strategi, metode, teknik, serta model pembelajaran yang tepat, diharapkan tujuan dari pembelajaran sains dapat tercapainya.
Pada pembelajaran sains yang memiliki konten materi ajar berupa fakta-fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum sehingga siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan secara kognitif dengan menghafal dan memahami semua konten materi dengan baik tetapi juga pada ranah afektif dan psikomotor. Pendekatan yang dapat diterapkan pada pembelajaran sains di antaranya adalah student centered, keterampilan proses, induktif, kontekstual, SETS (Science, Environment, Technology, and Society), dan konstruktivisme. Metode yang digunakan di antaranya ceramah, demonstrasi, eksperimen, diskusi, proyek, discovery, dan inquiry. Sedangkan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran sains adalah CTL (Contextual Teaching and Learning), SETS (Science, Environment, Technology, and Society), GI (Group Investigation), PBL (Project Based Learning), dan Quantum Learning. Semua pendekatan, metode, dan model di atas memberikan kesempatan pada siswa agar dapat  berperan aktif selama proses pembelajaran. Berikut dijelaskan beberapa model pembelajaran:
1.      PBL (Project Based Learning)
PBL merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Dalam e-Journal PPs Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA volume 4 tahun 2014, Amanda dkk. mengutip tulisan The George Lucas Educational Foundation tentang enam tahapan dalam pembelajaran berbasis proyek : (1) start with the essential question, (2) design a plan for the project, (3) create a schedule, (4) monitor the students and the progress of the project, (5) asses the outcome, (6) evaluate the experiences. Menurut Thomas dkk. yang dikutip oleh Amanda dkk. (2014) pada model pembelajaran ini, siswa dituntut untuk marancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, dan bekerja secara mandiri bersama kelompok.
2.      Inquiry dan Discovery
Model inquiry merupakan model pembelajaran kognitif yang sering diunggulkan dalam pembelajaran sains di sekolah. Menurut Rostiyah (2008) inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya seperti merumuskan masalah, merencanakan percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan.
Sedangkan discovery dari segi etimologinya berarti penemuan. Menurut Sund dalam buku karya Rosetiyah (2008) discovery berarti proses mental di mana siswa dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud proses mental adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dalam discovery guru hanya sebagai pembimbing dan pemberi instruksi, sementara siswa diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri.
Menurut Trowbridge & Byee yang dikutip oleh Rustaman (2005) tingkat kompleksitas pembelajaran inquiry dibedakan menjadi tiga. Pertama adalah pembelajaran penemuan (discovery) yaitu melakukan pencarian konsep melalui kegiatan yang melibatkan pertanyaan, inferensi, prediksi, berkomunikasi, interpretasi, dan menyimpulkan, kedua pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry) yaitu permasalahan dimunculkan oleh pembimbing, dan ketiga tingkatan paling kompleks adalah inkuiri terbuka atau bebas (open inquiry) yaitu masalah berasal dari siswa sendiri dengan bantuan arahan dari guru. Ketiga pembelajaran tersebut melibatkan keterampilan proses sains atau kemampuan bekerja ilmiah. Sehingga dapat dikatan pula bahwa inquiry merupakan perluasan dari discovery.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2010):
a.       Orientasi
b.      Merumuskan masalah
c.       Mengajukan hipotesis
d.      Mengumpulkan data
e.       Menguji hipotesis
f.       Merumuskan kesimpulan
3.      CTL (Contextual Teaching and Learning)
CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh sehingga dapat menemukan materi sendiri melalui pengalaman secara langsung, menghubungkan materi yang didapat di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga dapat mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2010).
Lebih lanjut Sanjaya (2010) menyebutkan ada 7 asas atau komponen yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan CTL yaitu:
a.       Konstruktivisme
b.      Inkuiri
c.       Bertanya (questioning)
d.      Masyarakat belajar (learning community)
e.       Pemodelan (modeling)
f.       Refleksi (reflection)
g.      Penilaian nyata (authentic assessment)
D.    Instrumen Evaluasi
Menurut Kemendiknas (2012) instrumen penilaian hasil belajar adalah alat yang digunakan untuk mengetahui kekurangan setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik dalam hasil belajar. Instrumen evaluasi/penilaian hasil belajar dapat berbentuk soal, non-soal, dan tugas. Pada proses pembelajaran sains penilaian terhadap hasil belajar terdiri dari tiga aspek yaitu kognitif (proses kognitif: remember, understand, apply, analize, evaluate, create; pengetahuan: factual knowledge, conceptual knowledge, procedural knowledge, metacognitive knowledge), afektif (minat, sikap, nilai, penghargaan, penyesuaian diri), dan psikomotor (gerak otot, keterampilan motorik, gerak yang membutuhkan koordinasi otot). Menurut Sukardjo dan Lis Permana Sari (2008) instrumen penilaian hasil belajar aspek kognitif dan psikomotor dapat berbentuk soal, sedangkan pada aspek afektif menggunakan instrumen non-soal. Pada umumnya, aspek psikomotor juga menggunakan instrumen non-soal. Instrumen soal selalu memiliki jawaban yang benar dan salah. Pada instrumen non-soal jawaban merupakan suatu skala. Baik soal maupun non-soal terdiri dari beberapa butir soal bisa berupa pertanyaan atau pernyataan.
Lebih lanjut Sukardjo dan Lis Permana Sari (2008) menjelaskan bahwa instrumen penilaian soal dapat berbentuk uraian atau objektif. Instrumen penilaian non-soal berbentuk pedoman observasi, daftar cek, skala lajuan, pedoman wawancara, lembar angket, dan skala sikap. Instrumen soal uraian memiliki dua tipe yaitu uraian terbatas (jawaban singkat, melengkapi, uraian terbatas sederhana) dan uraian bebas (uraian bebas sederhana, uraian ekspresif). Instrumen soal objektif memiliki tiga tipe yaitu objektif benar-salah (benar-salah sederhana, benar-salah dengan koreksi), objektif menjodohkan (menjodohkan sederhana, menjodohkan hubungan sebab-akibat), dan objektif pilihan ganda (pilihan ganda biasa, hubungan antar hal, analisis kasus, pilihan ganda kompleks, membaca diagram).





BAB III
PENUTUP
1.      Pembelajaran Sains atau IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) adalah proses mempelajari segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita (lingkungan) berupa fakta-fakta atau kejadian-kejadian dan hubungan sebab-akibatnya secara sistematis.
2.      Tujuan pembelajaran sains di sekolah adalah agar siswa mengerti dan paham tentang konten materi dari sains berupa fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum. Serta memiliki keterampilan proses sains menggunakan metode ilmiah (scientific methode), kemampuan berpikir, dan keterampilan memecahkan masalah secara efektif serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan selanjutnya di masyarakat.
3.      Konten materi ajar sains meliputi produk-produk sains berupa fakta-fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum yang sudah diterima keberadaannya.
4.      Model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran sains menitik beratkan pada partisipasi aktif siswa agar siswa dapat memeroleh pengetahuan berdasarkan pengalamannya sendiri. Di antaranya adalah model PBL (Project Based Learning), Inquiry dan Discovery, CTL (Contextual Teaching and Learning), SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dan lain-lain.
5.      Instrumen evaluasi/penilaian hasil belajar pada pembelajaran sains  dapat berbentuk soal, non-soal, dan tugas. Instrumen penilaian hasil belajar aspek kognitif dan psikomotor dapat berbentuk soal, sedangkan pada aspek afektif menggunakan instrumen non-soal. Pada umumnya, aspek psikomotor juga menggunakan instrumen non-soal.





DAFTAR PUSTAKA
Amanda, dkk. 2014). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Hasil           Belajar IPA Ditinjau dari Self Efficacy Siswa. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA volume 4 tahun 2014.

Dahar, Ratna Wilis. (2011). Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Strategi Pembelajaran MIPA.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Dokumen Kurikulum 2013.

Roestiyah. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Rustaman, Nuryani Y. (2005). Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam Pendidikan Sains. Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional II Himpunan Ikatan sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia Bekerjasama dengan FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia tanggal 22-23 Juli 2005.

Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Sukardjo & Lis Permana Sari. (2008). Penilaian Hasil Balajar Kimia. Yogyakarta: UNY press.

Suyanti, Retno Dwi. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sabtu, 27 Oktober 2012

RETORIKA

Di balik Retorika

Dari tampilan luar, mungkin tidak dapat disadari secara langsung bahwa kemampuannya dalam hal ber-retorika sangat baik. Dan hal itu pula yang aku lihat pertama kali.
Ketika kata demi kata terangkai, akhirnya aku tersentak kaget dan bergumam dalam hati "diplomatis sekali".
Mungkin kalian sebut aku "lebay", tapi itulah yang aku rasakan ketika aku pertama melihat dan mendengarnya.
Pengen rasanya belajar ber-retorika, bukan untuk urusan diplomatik atau hal-hal yang berbau politik. Hanya sekedar melatih lidah ini untuk berkata secara sistematis.
Itu yang menjadikan nilai "plus" buatnya, bahkan ada nila-nilai plus yang lain yang belum aku gali darinya.
Dan lagi, mungkin ini bisa diistilahkan "jatuh cinta pada pandangan pertama". Dan sampai saat ini pun, Q masih tetap mengaguminya. Aku gak tahu sampai kapan, yang paling penting adalah "kamu" adalah guru yang selalu aku nanti-nantikan ilmunya whenever and whereever.
Yogyakarta, 27 Okt 2012 ^^

Rabu, 04 April 2012

model pembelajaran role playing


BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Ilmu Kimia merupakan bidang ilmu baru bagi siswa kelas X. Oleh karena itu  perlu dikenalkan dan ditanamkan konsepnya kepada siswa sejak awal . Selain itu mareri kimia yang sebagian besar bersifat abstrak cukup menyulitkan guru dalam menanamkan konsep.
Untuk itu  seorang guru harus pandai memanfaatkan situasi sehingga membuat siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran dengan baik .
Menurut data yang ada bahwa Proses Belajar Mengajar selama ini cenderung berlangsung secara konvensional atau menggunakan strategi pembelajaran tradisional artinya kebanyakan guru hanya mentransformasi ilmu ke siswa dengan menggunakan metode ceramah saja. Padahal sesuai kurikulum 2004 yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi guru dituntut untuk menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill, sedang guru hanya bertindak sebagai fasilitator saja.
Pada mulanya istilah strategi banyak digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak digunakan dalam berbagai bidang kegiatan yang bertujuan memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Misalnya seorang manajer atau pimpinan perusahaan yang menginginkan keuntungan dan kesuksesan yang besar akan menerapkan suatu strategi dalam mencapai tujuannya itu, seorang pelatih akan tim basket akan menentukan strategi yang dianggap tepat untuk dapat memenangkan suatu pertandingan. Begitu juga seorang guru yang mengharapkan hasil baik dalam proses pembelajaran juga akan menerapkan suatu strategi agar hasil belajar siswanya mendapat prestasi yang terbaik. Stretegi pembelajaran merupakan langkah-langkah untuk penentuan dan pengurutan kondisi dalam kegiatan pembelajaran. Strategi pembelajaran berinteraksi dengan situasi belajar. Strategi pembelajaran merupakan suatu pendekatan dalam mengorganisasikan komponen-komponen pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang baik adalah strategi yang mampu mengkondisikan segala aspek perbedaan peserta didik baik yang menyangkut kecerdasan, perbedaan individu, latar belakang, kemampuan dan segala aspek yang ada pada anak didik. Dewasa ini di persekolahan, kemampuan otak siswa kadang kurang diperhatikan padahal kemampuan otak manusia adalah tidak terbatas. Namun banyak orang yang tidak mampu mengolahnya sampai kepada penggunaan yang optimal, sehingga hasil yang dicapai juga kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran kurang merangsang kepada penggunaan otak secara keseluruhan.
Kenyataan di lapangan banyak siswa yang sebenarnya memiliki kecerdasan yang tinggi namun tidak dapat diberdayakan sebaik mungkin, sehingga dalam belajar ia tidak mencapai hasil belajar yang baik. Ada anak yang memiliki kecerdasan tinggi namun karena strategi pembelajaran yang kurang sesuai dengan perkembangannya menjadikan pebelajar tersebut berada di tingkat bawah. Namun sebaliknya ada anak yang memiliki kecerdasan menengah dapat berhasil dalam pembelajaran karena strategi pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya.
Secara umum cara anak belajar menurut Schmith adalah sebagai berikut :
·         - anak- anak belajar sambil bermain
·         - Anak-anak belajar melalui pengalaman langsung, melihat, menyentuh, meraba,   mencium,
·         - anak-anaka belajar berkomunikasi dengan mengobrol
·         - anak-anak belajar dengan mencoba memecahkan masalah sungguhan
·         - anak-anak tahu bahwa menyelidik dan menjelajah bermanfaat bagi mereka
Dari kutipan tersebut terlihat tentang cara-cara anak dalam belajar. Jadi untuk menjadikan anak sukses belajar maka strategi yang diciptakan juga harus mempedomani tentang bagai mana cara anak sebenarnya belajar. Penekanan yang paling penting adalah kondisikan anak saat belajar benar-benar seperti apa kenyatannya. Sesuai dengan prinsip mereka belajar. Karenanya, penerapan metode role playing sangat tepat dalam mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar karena  proses pembelajaran dilakukan dengan cara yang yang unik dan asyik. Sebaliknya, kesalahan dalam menerapkan metode pembelajaran akan berakibat fatal pada kepahaman peserta didik.
BAB II
ISI
1.      DASAR TEORI
Metode role playing merupakan turunan atau jenis dari metode simulasi. Metode ini, seperti banyak metode lainnya, pada hakikatnya diangkat dari situasi kehidupan. Kanak-kanak  atau bahkan remaja dan orang dewasa pun sering melakukannnya dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan dunia kerja (Sudirman, dkk., 1987).
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar  dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya (Sanjaya, 2010).
Apabila kita perhatikan, kanak-kanak sering dihadapkan pada berbagai alat permainan, bermain dengan alat-alat permainan itu dengan memberikan peranan masing-masing pada setiap alat permainan itu, termasuk dirinya. Misalkan dia berperan sebagai ibu, bonekanya atau benda tertentu sebagai anak, kemudian “anak” digendong sambil mengucapkan kata “sayang”, “bobok”, dan sebagainya. Anak-anak sering bermain kucing-kucingan dan lain-lain. Remaja dan orang dewasa sering melakukan permainan sandiwara atau memberi contoh dengan membuat situasi tiruan tertentu. Semuanya adalah kenyataan dalam kehidupan yang menggunakan simulasi (Sudirman, dkk., 1987).
Dilihat dari berbagai tiruannya, terdapat beberapa jenis simulasi. Dan diantara beberapa simulasi itu, role playing yang akan menjadi sorotan pada pembahasan kali ini.
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid. Jika murid secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari. Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Selain itu, role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang (Sanjaya, 2010). Dengan memerankan satu atau beberapa peran tertentu, diharapkan para siswa dapat melakukan peranan yang dituntut dalam usaha pemecahan masalah itu.
Menurut Mel Silberman (2005) dalam bukunya “Active Learning” menjelaskan tentang Triple Role Playing atau bermain peran tiga model. Dalam teknik ini dikembangkan permainan peran tradisional dengan memanfaatkan tiga peserta didik yang berbeda dalam situasi permainan peran yang sama. Ia menunjukkan pengaruh variasi gaya individual berdasarkan situasi hasil.
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan role playing sebagai metode menggajar, diantaranya :
1.      Siswa beebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh
2.      Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda
3.      Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4.      Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. 
5.      Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias 
6.      Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
7.      Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri 
8.      Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja
Selain itu, ada juga beberapa kelemahan dari metode role playing :
1.      Metode bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak 
2.      Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.
3.       Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu
4.      Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai 
5.      Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini
(www. edusogem.blogspot.com. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 16.16 WIB).

2.      SYNTAX

Kegiatan Guru
Kegiatan Peserta Didik
-          Menentukan topik
-          Mendengarkan dengan seksama
-          Menunjuk dua/lebih peserta didik untuk memerankan karakter (waktu 10-15 menit)
-           Bagi peserta didik yang ditunjuk    segera maju untuk mengambil sekenario dan mempelajarinya.
-          Meminta peserta didik yang berperan untuk bertukar peran
-          Bagi peserta didik yang berperan segera bertukar peran
-          Meminta peserta didik memainkan sekenario di depan kelas
-          Bagi peserta didik yang lain mengamati dan menuliskan tanggapan mereka
-          Menghentikan role play ketika sudah mencapai puncak tinggi/dirasa sudah cukup
-          Bagi pemeran segera menghentikan peran.
-          Bertanya pada peserta didik tentang kesimpulan dari permainan peran
-          Memberikan kesimpulan
-          Mengklarifikasi kesimpulan dari permainan
-          Mendengarkan dan mencatat
-          Memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertanya
-          Mengangkat tangan dan bertanya
-          Melakukan tindak lanjut dari hasil permainan peran
-          Mendengarkan, memahami, dan mengaplikasikan

3.      MATERI
Unsur-unsur gas mulia bersifat stabil atau sangat sukar bereaksi. Di alam tidak ditemukan satupun senyawa dari unsur gas mulia yang berhasil dibuat. Sementara itu, jika anda periksa senyawa dari unsur selain gas mulia, mungkin anda akan menemukananya. Semua unsur selain gas mulia ternyata membentuk senyawa. Bahkan banyak unsur  seperti natrium, kalium, fluorin, dan klorin yang secara alami hanya terdapat sebagai persenyawaan. Unsur-unsur tersebut  dikatakan bersifat reaktif.
1.      Aturan Oktet
Seperti telah disebutkan di atas, tidak ditemukan satupuun senyawa alami dari gas mulia. Semua unsur gas mulia terdapat di alam sebagai gas monoatomik (atom-atomnya berdiri sendiri). Mengapa unsur gas mulia bersifat stabil? G. N. Lewis dan W. Kossel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. Gas mulia mempunyai konfigurasi penuh, yaitu konfigurasi oktet (mempunyai 8 elektron pada kulit luar), kecuali helium dengan konfigurasi duplet (dua elektron pada kulit luar) (Perhatikan Tabel 1).
Tabel 1. Konfigurasi Elektron Unsur-unsur Gas Mulia
Periode
Unsur
Nomor atom
K
L
M
N
O
P
1
He
2
2





2
Ne
10
2
8




3
Ar
18
2
8
8



4
Kr
36
2
8
18
8


5
Xe
54
2
8
18
18
8

6
Rn
86
2
8
18
32
18
8

Unsur-unsur lain selain unsur gas mulia menunjukkan suatu kecenderungan untuk menjadikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas mulia terdekat. Kecenderungan ini  disebut aturan oktet. Konfigurasi oktet dapat dicapai dengan cara serah-terima atau pemasangan elektron, yaitu ketika atom-atom membentuk ikatan.
Contoh : Reaksi natrium dengan klorin membentuk natrium klorida. Perhatikan konfigurasi elektron natrium, neon, klorin, dan argon berikut ini:
10Ne :  2   8
11Na : 2  8   1     dengan melepas 1 elektron akan sama dengan konfigurasi          elektron neon
17Cl  : 2   8  7        dengan menyerap 1 elektron akan sama dengan    konfigurasi elektron argon
18Ar    :  2     8    8
Dibandingkan dengan konfigurasi gas mulia terdekat (yaitu neon), natrium kelebihan 1 elektron. Sebaliknya, klorin kekurangan 1 elektron. Ketika natrium direaksikan dengan klorin, maka 1 elektron berpindah dari atom natrium ke atom klorin.
Serah terima elektron menghasilkan apa yang kita sebut dengan ikatan ion, sedangkan pemasangan elektron menghasilkan ikatan kovalen (Purba, 2006).
2.      Lambang Lewis
Lambang Lewis adalah lambang atom disertai elektron valensinya. Lambang Lewis untuk unsur-unsur periode 2  sebagai berikut ( lihat Tabel 2).
clip_image002_thumb.gifTabel 2. Lambang Lewis Unsur-unsur periode 2



Sumber : wanibesak.wordpress.com/2010/11/01/kaidah-oktet-dan-duplet/. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 15.31 WIB

Lambang Lewis unsur gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi yang terbagi dalam 4 pasangan. Lambang Lewis unsur dari golongan lain menunjukkan adanya elektron tunggal (elektron yang belum berpasangan).


3.      Ikatan Ion atau Ikatan Elektrovalen
Dari ilmu fisika, kita mengenal hukum Coulomb yang mengatakan bahwa muatan sejenis akan saling tolak-menolak, sedangkan muatan yang berbeda akan saling tarik-menarik. Gaya tarik menarik antar ion yang berbeeda muatan kita sebut ikatan ion. Ikatan ion disebut juga ikatan elektrovalen. Contoh ikatan ion terdapat dalam natrium klorida (NaCl) yang terdiri atas ion Na+ dan Cl-. Ion-ion tersebut dikukuhkan oleh gaya tarik-menarik listrik sesuai dengan hukum Coulomb.
Pada subbab sebelumnya, telah disebutkan bahwa ikatan antara natrium dan klorin terjadi karena serah-terima elektron. Hal itu dapat terjadi karena natrium marupakan logam yang relatif mudah melepas elektron (mempunyai energi ionisasi yang relattif kecil), sedangkan klorin merupakan nonlogam dengan afinitas elektron (daya tarik elektron) yang besar. Ketika natrium bereaksi dengan klorin, atom klorin menarik satu elektron dari atom natrium. Atom natrium berubah menjadi ion positif, sedangkan atom klorin berubah menjadi ion negatif. Selanjutnya, ion-ion yang berbeda muatan itu saling tarik-menarik, sehingga terbentuklah senyawa NaCl (Purba, 2006).
Dengan menggunakan lambang Lewis, pembentukan NaCl digambarkan  sebagai berikut :
Link3_clip_image007.jpg






Sumber: www. kimia.upi.edu. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 15.48 WIB

Unsur apa saja yang dapat membentuk ikatan ion? Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ikatan ion hanya dapat terjadi jika unsur-unsur yang direaksikan mempunyai perbedaan daya tarik elektron (keelektronegatifan) yangg cukup besar. Perbedaan daya tarik elektron yang cukup besar memungkinkan terjadinya serah-terima elektron.
Hal seperti itu terjadi antara unsur-unsur logam dengan nonlogam. Logam memiliki keelektronegatifan yang relatif kecil, sedangkan nonllogam mempunyai keelektronegatifan relatif besar. Meski ada beberapa pengecualian, untuk sementara dapatlah kita anggap bahwa senyawa biner antara logam dengan nonlogam bersifat ionik (berikatan ion).
Mengapa rumus kimia natrium klorida adalah NaCl (Na : Cl  = 1 : 1)?
Perhatikan kkembali konfigurasi elektron natrium dan klorin berikut :
11Na : 2            8          1
17Cl  : 2            8          7
Sesuai dengan aturan oktet yang telah dibahas di atas, atom natrium akan melepas 1 elektron, sedangkan atom klorida akan menyerap 1 elektron. Jadi, setiap 1 atom klorin membutuhkan 1 atom natrium. Akan tetapi, jangan diartikan bahwa satu ion Na+ hanya terikat pada satu ion Cl-. Dalam kristal NaCl, setiap ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl- dan setiap ion Cl- dikelilingi oleh 6 ion Na+ dalam suatu struktur tiga dimensi berbentuk kubus (lihat Gambar 3). Rumus kimia NaCl adalah rumus empiris, menyatakan bahwa perbandingan ion Na+ : ion Cl- = 1 : 1 (Purba, 2006).
Gambar 3. Struktur NaCl
kristalnacl.jpg






Sumber : www. kimia.upi.edu. Diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 16.09 WIB

Sifat-sifat dari ikatan ionik adalah :
1. Titik leleh dan titik didih tinggi
2. Lelehan dan larutannya menghantarkan listrik
3. Berwujud padat pada temperatur kamar
(www. chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 16.19 WIB)

4.      ARGUMEN
Selama ini banyak anggapan bahwa untuk menanamkan konsep ikatan kimia pada siswa cukup sulit, untuk itu salah satu konsep yang penulis anggap paling mewakili adalah pembelajaran dengan menggunakan metode role playing. Dengan metode ini penulis berharap bahwa siswa akan termotivasi sehingga mampu menerima dan mencerna materi dengan lebih mudah. Selain itu dengan metode ini peneliti  berharap agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan nyaman dan menyenangkan.
Sehubungan dengan hal diatas maka untuk meningkatkan motivasi belajar siswa tentunya minat terhadap materi pembelajaran ikatan kimia (ikatan ion) dimunculkan dulu dengan memperhatikan kebutuhan mereka. Oleh karena saat ini siswa lebih suka hal-hal yang bersifat ringan dan menyenangkan, maka guru mengaitkan hal diatas dengan penggunaan metode role playing sebagai alternatif pemecahannya.
Frank Lyman (1985) memberikan langkah-langkah metode role playing sebagai berikut :
1.      Guru menyusun skenario yang akan ditampilkan
Skenario yang disiapkan berisi tentang materi ikatan ion, dimulai dari proses pembentukan ion sampai terbentuknya ikatan.
2.      Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran
3.      Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran
4.      Membentuk kelompok siswa yang anggotanya terdiri + 5 orang pada tiap-tiap kelompok
5.      Memanggil siswa yang ditunjuk untuk memerankan skenario
6.      Masing-masing siswa duduk di kelompoknya sambil memperhatikan skenario yang dimainkan
7.      Selesai pementasan masing-masing kelompok berdiskusi untuk mengambil kesimpulan sekaligus mengerjakan LKS
8.      Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
9.      Guru memvalidasi kesimpulan secara umum
10.  Evaluasi.

Dalam pokok bahasan ikatan kimia dan lebih khusus lagi ikatan ionik, metode role playing dapat menjadi alternatif dalam memahami bagaimana ikatan ion terbentuk, bahkan sampai pembentukan ion-ion negatif atau positif. Metode ini cukup cocok karena dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan simulasi (permainan peran) dari pembentukan ion sampai pembentukan ikatan ion. Peserta didik juga  lebih antusias dan paham ketika melihat simuulasi yang dilakukan, bahkan hal ini akan teringat sampai kapanpun.

Skenario Pembelajaran
Pembentukan Ikatan Ion
Na  keluar dengan membawa kartu yang mewakili jumlah electron yang dimiliki.
Na       : “ Halo, saya bernama Natrium. Saya punya 11 elektron sehingga saya punya 3 kulit. Coba lihat ( sambil menunjukkan kartunya ). Tapi saya ingin stabil, tentunya teman-teman tahu kan caranya menjadi stabil ? Nah, sebaiknya kartuku yang satu ini saya buang saja ya ( sambil membuang satu kartunya ). Nah sekarang saya sudah menjadi ion Na+ .”
Cl  keluar dengan membawa kartu yang mewakili jumlah electron yang dimiliki.
Cl        : “ Hey, nama saya klor. Saya punya 17 buah electron. Jumlah kulit saya juga 3 lho ( sambil memperlihatkan kartunya ). Saya punya 7 elektron valensi. Seperti halnya Natrium , saya juga ingin stabil. Tapi kalo saya harus membuang 7 elektron bisa-bisa energiku terkuras habis, maka sebaiknya saya ambil satu electron saja dari luar supaya electron valensiku menjadi 8. Nah, gimana kalo punyamu yang kamu buang tadi saya ambil saja, toh kamu nggak membutuhkan lagi, boleh nggak ?”
Na       : “ Okelah, toh saya sekarang sudah tidak butuh lagi. Nih ambil.”
Cl        : (sambil mengambil kartu milik Na yang dibuang ) “ Wah, makasih ya, sekarang saya telah menjadi ion negatif. Jadi sekarang saya punya nama baru , mau tahu nggak ? Yah, namaku sekarang menjadi ion klorida.”
Na       : “ O iya, tadi kamu kan sudah keberi satu elektronku. Sekarang kamu sudah menjadi ion negatif, sementara aku ion positif. Gimana kalo kita bersatu saja, setuju nggak? Maksudku kita ini saling mengikatkan diri gitu lho.”
Cl        : Gimana ya , okelah aku setuju. Toh ini saling menguntungkan bagi kita.”
Na dan Cl saling berdekatan kemudian bergandengan tangan.
Na dan Cl       : “ Nah teman-teman, sekarang kami sudah bersatu. Kami saling berikatan satu sama lain dengan ikatan ion karena kami terbentuk dari ion positif dan ion negatif. Perlu teman-teman ketahui ya, senyawa yang kami bentuk ini namanya senyawa ion.”
Na dan Cl masuk kembali tetap dengan bergandengan tangan.









BAB III
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
Metode role playing merupakan turunan atau jenis dari metode simulasi. Metode ini, seperti banyak metode lainnya, pada hakikatnya diangkat dari situasi kehidupan. Kanak-kanak  atau bahkan remaja dan orang dewasa pun sering melakukannnya dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan dunia kerja
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid. Jika murid secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari. Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Dengan metode role playing  siswa akan termotivasi sehingga mampu menerima dan mencerna materi ikatan kimia (ikatan ion) dengan lebih mudah. Selain itu dengan metode ini peneliti  berharap agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan nyaman dan menyenangkan.

2.      SARAN
a.       Sebaiknya setiap guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
b.      Dalam setiap kegiatan pembelajaran sebaiknya guru selalu memberikan dorongan pada siswa agar lebih termotivasi dalam mengikuti KBM.
c.       Seharusnya guru tidak segan untuk selalu memberikan penghargaan kepada siswa supaya lebih termotivasi.




BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Purba, Michael. 2006. KIMIA untuk SMA Kelas X Semester 1. Jakarta: Erlangga
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group
Silberman, Mel. 2005. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Yappendis
Sudirman, dkk,. 1987. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remadja Karya
Hadfield, J. 1986. Harap’s communication games. Australia: Thomas Nelson and Son Ltd. www.http://gooogle/wordpress.com. diakses tanggal 19 November 2009.
www. chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 16.19 WIB
www. kimia.upi.edu. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 15.48 WIB
wanibesak.wordpress.com/2010/11/01/kaidah-oktet-dan-duplet/. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 15.31 WIB
www. edusogem.blogspot.com. Diakses tanggal 14 April 2011 jam 16.16 WIB